Hatim Al Asham rahimahulloh ketika ditanya bagaimana ia sholat, maka ia menceritakan,” Jika tiba waktu sholat, aku sempurnakan wudhuku dan segera pergi ke tempat yang aku ingin sholat di dalamnya. Kemudian aku duduk di dalamnya sampai badanku dalam keadaan tenang.”
” Kemudian aku berdiri untuk sholat, dan aku jadikan Ka’bah ada di depanku, surga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, dan malaikat maut berada di belakangku. Aku bayangkan seakan-akan sholatku ini adalah sholat terakhir bagiku.”
” Kemudian aku berdiri dalam sholat dengan sikap antara berharap dan takut.” Yakni, khawatir atas balasan dosa-dosa, namun juga sangat berharap kepada nikmat Alloh.”
” Dalam kesempatan lain ia berkata,” Aku berdiri karena perintahNya, berjalan dengan rasa takut, memulainya dengan niat, membaca takbir dengan penuh pengagungan dan membaca Al Qur’an dengan tartil serta tafakur.”
” Aku rukuk dengan khusyuk, sujud dengan tawadhu’, duduk tasyahud dengan sempurna, dan mengucap salam dengan niat. Aku sudahi sholat dengan ikhlas karena Alloh, dan lalu aku merenungkan nasibku dengan perasaan takut; khawatir jika Alloh tidak menerima sholatku.”
{Kaifa tusholi wa takhsya’}
” Kemudian aku berdiri untuk sholat, dan aku jadikan Ka’bah ada di depanku, surga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, dan malaikat maut berada di belakangku. Aku bayangkan seakan-akan sholatku ini adalah sholat terakhir bagiku.”
” Kemudian aku berdiri dalam sholat dengan sikap antara berharap dan takut.” Yakni, khawatir atas balasan dosa-dosa, namun juga sangat berharap kepada nikmat Alloh.”
” Dalam kesempatan lain ia berkata,” Aku berdiri karena perintahNya, berjalan dengan rasa takut, memulainya dengan niat, membaca takbir dengan penuh pengagungan dan membaca Al Qur’an dengan tartil serta tafakur.”
” Aku rukuk dengan khusyuk, sujud dengan tawadhu’, duduk tasyahud dengan sempurna, dan mengucap salam dengan niat. Aku sudahi sholat dengan ikhlas karena Alloh, dan lalu aku merenungkan nasibku dengan perasaan takut; khawatir jika Alloh tidak menerima sholatku.”
{Kaifa tusholi wa takhsya’}

0 komentar:
Posting Komentar