Jumat, 03 Juni 2011

Ats Tsabat, edisi 8, vol 2/ 2011

JEBAKAN KESYIRIKAN

Tauhid adalah tiang penyangga keadilan, bahkan merupakan puncaknya. Yang kemudian menjadi barometer mutlak untuk standar benar salah, serta baik buruknya amal perbuatan manusia. Sedang syirik menafikan makna tauhid ini, maka ia adalah yang terbesar di antara dosa-dosa besar, kezhaliman yang sebenarnya, dan kesesatan yang paling nyata. Dosa yang takkan terampuni kecuali jika bertaubat kepada Allah darinya sebelum menutup usia. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. an-Nisaa’: 48)
Mengapa Bisa Terjerumus?

Sebab utama mengapa manusia terjerumus ke dalam kesyirikan adalah kebodohan. Juga keinginan untuk mendapatkan manfaat secara cepat tanpa susah payah. Kebodohan pulalah yang menyebabkan seorang manusia mempercayai adanya penguasa alam manfaat dan madharat selain Allah ‘Azza wa Jalla.
Hal ini akan membuat manusia ‘kehilangan jejak’ saat harus mendaratkan rintihan hatinya dan menyandarkan keyakinannya. Ketika keyakinan seseorang telah rusak, maka akan rusak pulalah perkataan, perbuatan, kehendak, bahkan niatnya. Mungkin, dia akan sujud kepada selain Allah, berthawaf bukan di Ka’bah, memeluk bebatuan, atau mengharap sesuatu selain ridha Allah saat beramal.
Selanjutnya, bisa jadi dia akan mendustakan risalah kenabian, kitab-kitab suci, membangkang terhadap perintah-perintah Allah, dan mengagungkan sesuatu selain Allah bukan pada tempatnya.
Logika Akal
Meski dengan akal kita bisa mengenali kebenaran, menyandarkan kebenaran kepada kekuatan akal semata jelas tidak bisa dibenarkan. Inilah penyebab kesyirikan berikutnya. Seringkali, orang-orang musyrik tidak mengakui kesyirikan mereka sebab berdalih dengan logika akal. Akhirnya mereka menyangka yang tidak-tidak kepada Allah berdasar logika akal semata. Semisal keyakinan bahwa Allah beristri dan beranak, tidak mengutus rasul-rasul, tidak menurunkan kitab-kitab suci, tidak menyiksa manusia yang berdosa, tidak menghidupkan orang mati, serta sejumlah keyakinan yang mengotori keagungan dan kesucian dzat-Nya. Karena itulah, Allah mengancamkan kebinasaan kepada manusia disebabkan prasangka keliru mereka tentang Allah. Dia berfirman, “Yang demikian itu adalah prasangka yang telah kalian sangkakan kepada Rabb kalian. Prasangka itu telah membinasakan kalian, maka kalian menjadi orang-orang yang merugi”. (QS. Fushilat: 23)
Musyrik Quraisy berdalih bahwa mereka tidak mengangkat sesembahan selain Allah itu kecuali hanya sebagai perantara yang mereka percayai sanggup mendekatkan diri mereka kepada Allah sedekat-dekatnya. “Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), ‘Kami tidak menyembah meraka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.’” (QS. Az-Zumar: 3)
Mereka merasa benar karena mengaku melakukan penyembahan itu justeru karena ingin mengagungkan Allah. Mereka menganggap Allah seperti para raja di bumi yang memerlukan perantara untuk bisa ditemui. Tentu saja hal ini adalah logika yang aneh. Selain memang tidak ada satu ayat pun yang memberikan izin bagi manusia untuk melakukan peribadatan kepada Allah melalui perantara, juga karena hal ini justru menodai keagungan dan kesucian Allah. Sebab Allah adalah Penguasa segala sesuatu, sempurna tanpa cacat, dan tidak membutuhkan bantuan dari apa pun dan siapa pun. Berbeda dengan para raja dan penguasa yang hakikatnya lemah karena membutuhkan banyak pembantu untuk melayani kebutuhan mereka.
Sehingga -menurut Ibnul Qayyim-, memasukkan perantara antara Allah dengan makhluk, adalah penodaan dan pengurangan hak uluhiyah, rububiyah dan tauhid Allah. Maka, Berlogika pun -jika ingin selamat- harus berlandaskan nash al Qur’an dan al-Hadits yang shahih.
Syirik Cinta
Sebab lain dari terperosok pada kesyirikan adalah kekeliruan dalam cinta. Sebab cinta -disertai ketundukkan- adalah materi utama penghambaan. Sehingga kekeliruan dalam cinta adalah juga kekeliruan di dalam penghambaan. Meski secara lisan mengaku sebagai orang Islam, banyak manusia yang menghalalkan hal-hal yang haram, serta mengharamkan hal-hal yang halal karena dorongan cinta kepada selain Allah.
Allah berfirman, “Dan di antara manusia, ada yang membikin tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintai tandingan-tandingan itu sebagimana kecintaan kepada Allah. Adapun orang-orang yang beriman, sangat cinta kepada Allah. Dan seandainya orang-orang yang berbuat zhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu seluruhnya milik Allah, dan bahwa Allah amat berat siksaaan-Nya, (niscaya mereka menyesal). Yaitu ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari para pengikutnya, mereka melihat siksa dan segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. ” (QS. al-Baqarah: 165-166)
Imam Atha’ dan Ibnu’ Abbas menjelaskan makna ‘segala hubungan’ dalam ayat ini adalah al-mawaddah (kecintaan). Inilah informasi yang jelas di dalam al-Qur’an tentang adanya fenomena syirkul mahabbah (syirik dalam cinta).
Melepaskan Diri dari Syirik
Yang pertama tentu saja adalah menghindari kebodohan mengenai Allah dengan berusaha mengenal-Nya secara benar. Hal ini akan melahirkan pemahaman tentang tujuan penciptaan dan pengakuan akan keesaan uluhiyah Allah sebagai Pencipta alam semesta.
Meyakini keesaan uluhiyah Allah artinya mengakui kekuasaan tunggal Allah dalam menguasai alam manfaat dan madharat. Dengan hal ini akan muncul pengesaan ibadah kepada-Nya. Sebab sesungguhnya, doa, ketakutan, harapan dan tawakalnya manusia hanyalah merupakan buah dari siapa yang mereka yakini sebagai Sang Penguasa alam manfaat dan madharat. Karena naluri manusia hanyalah mencari manfaat dan menghindari madharat dalam hidup ini.
Amal Ikhlas
Ketika ma’rifat kepada Alloh seperti diatas sudah kuat, maka dengan sendirinya amal seorang hamba seharusnya sudah murni dan ikhlash. Karena dia mengakui bahwa Alloh itu sempurna secara absolut, mutlak dan tanpa cacat. Sehingga dia rela dengan sepenuh hati menyerahkan seluruh hidup dan matinya hanya kepada Alloh.
Namun hati manusia begitu mudah berbolak-balik, berubah dengan begitu cepat dan halus sehingga perlu untuk selalu mengingatkan diri akan kekalnya janji Allah di akhirat dan fananya puja puji manusia, juga betapa mudahnya materi duniawi kita tinggalkan. Dengan begitu maka kita tak akan berharap kecuali kepada Alloh, sementara Alloh dengan segala kesempurnaan-Nya tidak akan menerima amalan kecuali yang murni untuk diri-Nya.
Setelah itu semua, jangan lupa berdoa kepada Allah. Baik sebagai upaya mencari kekuatan untuk beristiqamah, juga sebagai upaya bertaubat dari kesyirikan yang mungkin terjadi tanpa disadari. Rasulullah mengajarkan doa; “Allohumma, inni a’udzu bika an usyrika bika wa ana a’lam, wa astaghfiruka lima laa a’lam.” (HR. Ibnu Hibban) Artinya; Ya Allah, sesungguhnya hamba berlindung pada-Mu agar hamba tidak mempersekutukan-Mu secara sadar. Dan hamba memohon ampunan kepada-Mu dari (kesyirikan) yang tidak hamba sadari.
Semoga dengan itu semua, kita bisa terbebas dari jerat dan jebakan kesyirikan yang –seringkali- tampak indah. Wallahu a’lam.

0 komentar:

Posting Komentar

Must Read

1. Ciri Pendidikan Unggul

Salah satu ciri lembaga pendidikan unggul adalah adanya perhatian pada sisi hafalan, praktek mengajar sebagai penunjang hafalan dan pengembangan dari ilmu yang pernah di dapat.read more→