BUKAN FATAMORGANA
Pernah Abu Malik menasehati Abu Ayyub agar berhati-hati terhadap nafsu dalam diri sendiri. Sebab, pilihan menjadi seorang mukmin adalah sebuah pilihan yang berat, berlaku seumur hidup. Menjadi ‘terikat’ dengan syariat, harus mengenal halal haram, boleh dan tidak boleh, serta tidak bisa mengecap semua ‘kenikmatan’ duniawi. Maka, jika keimanan seseorang dengan seluruh pengorbanannya itu tidak bisa mendatangkan keselamatan baginya di akhirat nanti. Sungguh, padanya telah berkumpul dua perkara besar; menderita di dunia dan celaka di akhirat.
Kenyataannya, meski kita sebagai orang beriman telah bersusah payah mengerjakan ketaatan kepada Allah dan menunaikan serangkaian ibadah dalam hidup ini, jaminan keselamatan di akhirat belum tentu kita dapatkan. Sebab belum tentu amal kita diterima di sisi Allah. Meski banyak di antara kita yang melihat, mengira, bahkan meyakini bahwa dirinya telah berbuat baik, beribadah, dan mengikhlaskan niat. Namun ternyata fakta seringkali tak sesuai dengan prasangka. Sedang tanpa keikhlasan, mustahil Allah akan menerima amal kita, kecuali Dia kehendaki.
Berlaku sesuai tuntunan Rasulullah dan niat ikhlas lillahi ta’ala adalah dua syarat mutlak diterimanya amal shalih. Sementara Riya’ sebagai pembatal keikhlasan, adalah sejenis ‘pamer amal shalih’ dengan mengharap martabat dan kedudukan di mata manusia, atau materi dunia dari mereka. Sedangkan jika amalan itu dilakukan dengan tujuan agar didengar oleh orang lain, disebut sum’ah. Izzudin Abdussalam mendefinisikan riya’ sebagai perbuatan yang dilakukan bukan karena Allah. Sedang sum’ah adalah amal shalih yang dilakukan secara diam-diam, namun diberitakan kepada orang lain. Keduanya adalah syirik kecil!
Terlena Dunia
Tidak bisa dipungkiri bahwa kita membutuhkan aktualisasi diri dan penghargaan dari orang lain, karena merasa berguna dan dibutuhkan adalah konsumsi utama yang diinginkan oleh jiwa. Namun, sadar atau tidak, seringkali hati kita sulit dikendalikan untuk menjaga keikhlasan amal.
Ada begitu banyak hal yang bisa mengganggu hati kita; pujian, penghormatan, bahkan martabat dan kedudukan. Hingga kita pun ingin agar amal kita dilihat manusia, demi mengharap sebingkai pujian, sepenggal kehormatan atau sejumput popularitas. Hal-hal ini jika tidak kita waspadai, akan ‘membelokkan’ arah peribadatan hati yang mestinya hanya menjadi milik Allah saja. Sementara di sisi lain, kita merasa sulit benar menjaga keikhlasan. Membiarkan hati kesepian dari pujian selama hayat dikandung badan.
Bisa jadi, kita merasa nyaman atau menikmati buah dari laku riya’ dan sum’ah itu. Selain hasilnya instan, juga karena hal itu bisa menutupi borok diri yang tersembunyi maupun yang sengaja disembunyikan. Karena ini semua, kita kadang menjadi lemah dan tidak mampu menolak semua ‘kenikmatan’ dunia yang melenakan itu.
Yang perlu kita ingat adalah, meski semua amal riya’ kita itu mendatangkan hasil seperti yang kita harapkan, hakikatnya ia adalah jebakan dan palsu. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari disebutkan sabda Rasulullah , “Barangsiapa berlaku sum’ah dalam amalnya, Allah hanya akan membuatnya didengar. Dan barangsiapa yang berlaku riya’, Allah hanya akan membikinnya dikenal.”
Hanya Allah Saja
Riya’ berawal dari kegagalan mengenal Allah sebagai Rabb maupun Ilah, Yang bukan saja harus menjadi tujuan dari semua ibadah kita, karena hakikat kebaikan dan keburukan berada di sisi-Nya, namun juga karena Dia-lah saja yang mampu membantu manusia menggapai seluruh kebaikan dunia dan menghindari semua keburukannya. Ya, hanya Allah saja!
Keyakinan bahwa manfaat dapat diraih dan madharat bisa dihindari tanpa melibatkan Allah adalah keyakinan batil yang sangat berbahaya. Sebuah kebodohan yang menipu diri sendiri. Sebab, kehidupan yang pasti akan berakhir akan membuka tabir hakikat. Bahwa semua ibadah riya’ tiada lain hanya sekedar fatamorgana. Indah dilihat, tapi bukan hakikat.
Untuk itu kita harus merasa malu. Mengapa? Karena kita ternyata lebih mempertimbangkan penilaian manusia ketimbang pengawasan dan penerimaan Allah dalam amal kita. Kita lebih suka pujian manusia daripada surga Allah, lebih takut celaan manusia dibanding neraka Allah. Kita berikan formalitas ibadah untuk Allah, sementara hati kita untuk manusia. Lalu, apakah ini ciri orang yang beriman kepada Allah?
Maka, selain berusaha mengenal Allah lebih dalam, memahami arti ikhlas dan urgensinya dalam beramal. Kita juga harus selalu mengingat kematian dan akibat buruk riya’ di alam akhirat. Jika ma’rifat kita kepada Allah makin meningkat, maka kita akan sadar dan mengetahui bahwa dengan amalan riya’ kita telah berkhianat dan mengejek Allah, dosa-dosa kita akan bertumpuk dan sangat banyak, hingga terancam su’ul khatimah dan siksa neraka.
Air mata kita harus mengucur deras karena malu dan takut. Sementara bibir kita harus basah dengan istighfar dan taubat.
Serangkaian Latihan
Karena riya’ adalah penyakit hati, kita harus banyak-banyak membaca dan berinteraksi dengan al-Quran. Al-Quran-lah penyembuh segala penyakit hati, termasuk penyakit riya, ujub, dan sum’ah. Selain itu, kita juga harus memperbanyak amal-amal rahasia, tersembunyi dari pandangan manusia, sehingga kita terbiasa beramal karena Allah semata tanpa diketahui orang lain. Kemudian berusaha menjaga lisan dari menceritakannya kepada orang lain. Hal-hal inilah yang-insya Allah-akan membuat hati kuat dan kebal dari berbagai godaan.
Harusnya, kita juga mulai menghindari saling memuji secara berlebihan, karena pujian sering melalaikan dan menjerumuskan hati ke jurang riya’ dan sum’ah. Juga berhati-hati dalam berkawan, agar tidak terseret pergaulan pura-pura dan hanya berorientasi dunia. Kita harus memilih lingkungan yang dipenuhi kejujuran iman, kompetisi meraih ridha ilahi, dan kejernihan hati.
Latihan untuk puas diri dengan apa yang ada agar kita tidak ‘melirik’ milik orang lain dan harta dunia yang bukan menjadi bagian kita, adalah langkah selanjutnya. Termasuk mencari kepuasan hati dengan keyakinan bahwa Allah pasti menilai dan memberi pahala, serta berharap balasan ketenangan dan kedamaian hati karena telah berusaha untuk ikhlas. Insya Allah, semuanya akan terasa lebih manis dan menentramkan.
Kekuatan Sejati
Pada akhirnya, kita harus memohon kepada-Nya agar menolong kita mencapai nilai amal yang sebenarnya, dengan melazimi doa yang merupakan senjata luar biasa setelah pengakuan kita akan ke-maha-an-Nya. Sebab Dia-lah pemilik kekuatan sejati yang tak tertandingi. Rasulullah pernah berdoa, “Allâhumma innii a‘ûdzubika an usyrika bika wa ana a’lamuhu wa-astaghfiruka limâ lâ a’lamuhu.” (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari berlaku syirik secara sadar, dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap syirik yang tidak ku ketahui)
Lelah yang Indah
Sekarang, marilah kita berjanji untuk meng-esakan Allah dalam setiap amal kita meski sulit dan berat. Hanya saja, bukankah memang tiada pilihan lain? Semoga dengan semua yang kita lakukan, Allah memudahkan langkah kita untuk istiqamah di atas jalan-Nya. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian membatalkan (pahala) sedekah kalian dengan mengungkit atau menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia.” (QS. al-Baqarah: 264)
Wallâhu a’lam.
Pernah Abu Malik menasehati Abu Ayyub agar berhati-hati terhadap nafsu dalam diri sendiri. Sebab, pilihan menjadi seorang mukmin adalah sebuah pilihan yang berat, berlaku seumur hidup. Menjadi ‘terikat’ dengan syariat, harus mengenal halal haram, boleh dan tidak boleh, serta tidak bisa mengecap semua ‘kenikmatan’ duniawi. Maka, jika keimanan seseorang dengan seluruh pengorbanannya itu tidak bisa mendatangkan keselamatan baginya di akhirat nanti. Sungguh, padanya telah berkumpul dua perkara besar; menderita di dunia dan celaka di akhirat.
Kenyataannya, meski kita sebagai orang beriman telah bersusah payah mengerjakan ketaatan kepada Allah dan menunaikan serangkaian ibadah dalam hidup ini, jaminan keselamatan di akhirat belum tentu kita dapatkan. Sebab belum tentu amal kita diterima di sisi Allah. Meski banyak di antara kita yang melihat, mengira, bahkan meyakini bahwa dirinya telah berbuat baik, beribadah, dan mengikhlaskan niat. Namun ternyata fakta seringkali tak sesuai dengan prasangka. Sedang tanpa keikhlasan, mustahil Allah akan menerima amal kita, kecuali Dia kehendaki.
Berlaku sesuai tuntunan Rasulullah dan niat ikhlas lillahi ta’ala adalah dua syarat mutlak diterimanya amal shalih. Sementara Riya’ sebagai pembatal keikhlasan, adalah sejenis ‘pamer amal shalih’ dengan mengharap martabat dan kedudukan di mata manusia, atau materi dunia dari mereka. Sedangkan jika amalan itu dilakukan dengan tujuan agar didengar oleh orang lain, disebut sum’ah. Izzudin Abdussalam mendefinisikan riya’ sebagai perbuatan yang dilakukan bukan karena Allah. Sedang sum’ah adalah amal shalih yang dilakukan secara diam-diam, namun diberitakan kepada orang lain. Keduanya adalah syirik kecil!
Terlena Dunia
Tidak bisa dipungkiri bahwa kita membutuhkan aktualisasi diri dan penghargaan dari orang lain, karena merasa berguna dan dibutuhkan adalah konsumsi utama yang diinginkan oleh jiwa. Namun, sadar atau tidak, seringkali hati kita sulit dikendalikan untuk menjaga keikhlasan amal.
Ada begitu banyak hal yang bisa mengganggu hati kita; pujian, penghormatan, bahkan martabat dan kedudukan. Hingga kita pun ingin agar amal kita dilihat manusia, demi mengharap sebingkai pujian, sepenggal kehormatan atau sejumput popularitas. Hal-hal ini jika tidak kita waspadai, akan ‘membelokkan’ arah peribadatan hati yang mestinya hanya menjadi milik Allah saja. Sementara di sisi lain, kita merasa sulit benar menjaga keikhlasan. Membiarkan hati kesepian dari pujian selama hayat dikandung badan.
Bisa jadi, kita merasa nyaman atau menikmati buah dari laku riya’ dan sum’ah itu. Selain hasilnya instan, juga karena hal itu bisa menutupi borok diri yang tersembunyi maupun yang sengaja disembunyikan. Karena ini semua, kita kadang menjadi lemah dan tidak mampu menolak semua ‘kenikmatan’ dunia yang melenakan itu.
Yang perlu kita ingat adalah, meski semua amal riya’ kita itu mendatangkan hasil seperti yang kita harapkan, hakikatnya ia adalah jebakan dan palsu. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari disebutkan sabda Rasulullah , “Barangsiapa berlaku sum’ah dalam amalnya, Allah hanya akan membuatnya didengar. Dan barangsiapa yang berlaku riya’, Allah hanya akan membikinnya dikenal.”
Hanya Allah Saja
Riya’ berawal dari kegagalan mengenal Allah sebagai Rabb maupun Ilah, Yang bukan saja harus menjadi tujuan dari semua ibadah kita, karena hakikat kebaikan dan keburukan berada di sisi-Nya, namun juga karena Dia-lah saja yang mampu membantu manusia menggapai seluruh kebaikan dunia dan menghindari semua keburukannya. Ya, hanya Allah saja!
Keyakinan bahwa manfaat dapat diraih dan madharat bisa dihindari tanpa melibatkan Allah adalah keyakinan batil yang sangat berbahaya. Sebuah kebodohan yang menipu diri sendiri. Sebab, kehidupan yang pasti akan berakhir akan membuka tabir hakikat. Bahwa semua ibadah riya’ tiada lain hanya sekedar fatamorgana. Indah dilihat, tapi bukan hakikat.
Untuk itu kita harus merasa malu. Mengapa? Karena kita ternyata lebih mempertimbangkan penilaian manusia ketimbang pengawasan dan penerimaan Allah dalam amal kita. Kita lebih suka pujian manusia daripada surga Allah, lebih takut celaan manusia dibanding neraka Allah. Kita berikan formalitas ibadah untuk Allah, sementara hati kita untuk manusia. Lalu, apakah ini ciri orang yang beriman kepada Allah?
Maka, selain berusaha mengenal Allah lebih dalam, memahami arti ikhlas dan urgensinya dalam beramal. Kita juga harus selalu mengingat kematian dan akibat buruk riya’ di alam akhirat. Jika ma’rifat kita kepada Allah makin meningkat, maka kita akan sadar dan mengetahui bahwa dengan amalan riya’ kita telah berkhianat dan mengejek Allah, dosa-dosa kita akan bertumpuk dan sangat banyak, hingga terancam su’ul khatimah dan siksa neraka.
Air mata kita harus mengucur deras karena malu dan takut. Sementara bibir kita harus basah dengan istighfar dan taubat.
Serangkaian Latihan
Karena riya’ adalah penyakit hati, kita harus banyak-banyak membaca dan berinteraksi dengan al-Quran. Al-Quran-lah penyembuh segala penyakit hati, termasuk penyakit riya, ujub, dan sum’ah. Selain itu, kita juga harus memperbanyak amal-amal rahasia, tersembunyi dari pandangan manusia, sehingga kita terbiasa beramal karena Allah semata tanpa diketahui orang lain. Kemudian berusaha menjaga lisan dari menceritakannya kepada orang lain. Hal-hal inilah yang-insya Allah-akan membuat hati kuat dan kebal dari berbagai godaan.
Harusnya, kita juga mulai menghindari saling memuji secara berlebihan, karena pujian sering melalaikan dan menjerumuskan hati ke jurang riya’ dan sum’ah. Juga berhati-hati dalam berkawan, agar tidak terseret pergaulan pura-pura dan hanya berorientasi dunia. Kita harus memilih lingkungan yang dipenuhi kejujuran iman, kompetisi meraih ridha ilahi, dan kejernihan hati.
Latihan untuk puas diri dengan apa yang ada agar kita tidak ‘melirik’ milik orang lain dan harta dunia yang bukan menjadi bagian kita, adalah langkah selanjutnya. Termasuk mencari kepuasan hati dengan keyakinan bahwa Allah pasti menilai dan memberi pahala, serta berharap balasan ketenangan dan kedamaian hati karena telah berusaha untuk ikhlas. Insya Allah, semuanya akan terasa lebih manis dan menentramkan.
Kekuatan Sejati
Pada akhirnya, kita harus memohon kepada-Nya agar menolong kita mencapai nilai amal yang sebenarnya, dengan melazimi doa yang merupakan senjata luar biasa setelah pengakuan kita akan ke-maha-an-Nya. Sebab Dia-lah pemilik kekuatan sejati yang tak tertandingi. Rasulullah pernah berdoa, “Allâhumma innii a‘ûdzubika an usyrika bika wa ana a’lamuhu wa-astaghfiruka limâ lâ a’lamuhu.” (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari berlaku syirik secara sadar, dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap syirik yang tidak ku ketahui)
Lelah yang Indah
Sekarang, marilah kita berjanji untuk meng-esakan Allah dalam setiap amal kita meski sulit dan berat. Hanya saja, bukankah memang tiada pilihan lain? Semoga dengan semua yang kita lakukan, Allah memudahkan langkah kita untuk istiqamah di atas jalan-Nya. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian membatalkan (pahala) sedekah kalian dengan mengungkit atau menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia.” (QS. al-Baqarah: 264)
Wallâhu a’lam.

0 komentar:
Posting Komentar