Senin, 06 Juni 2011

TABDZIR

TABDZIR

Setan tidak selalu membisiki mausia untuk berbuat dosa. Adakalanya dia “memilihkan” manusia suatu perbuatan yang tidak terhitung dosa namun nihil dari manfaat dan pahal. Meskipun kelihatanya sepele, namun efek yang ditimbulkannya tidaklah sederhana. Ini hanyalah target antara untuk menggiring manusia kepada dosa. Karena ada dua sebab sesuatu perbuatan itu dianggap dosa, yaitu, fi’lul mahdzur wa tarkul ma’mur alias menjalankan larangan d/a meninggalkan perintah. Orang yang sibuk dengan permainan yang sia-sia, kegiatan yang tidak bergua, lambat laun akan menelantarkan kewajiban. Baik dalam bentuk mengurangi kesempurnaannya, bahkan dalam batas tertentu akan meninggalkan kewajiban sama-sekali karena terlalu asyik dengan yang mubah.
Senang dengan yang sia-sia pertanda lemahnya iman.
Sudah saatya sebelum menjalankan setiap aktifitas, kita patut bertanya, adakah manfaat yang bakal didapat, apakah hal itu mendatangkan pahala ataukah tidak. Bukan sekedar bertanya dosa atau tidak. Syaikh Shalh al-Munajjid bahkan menyebutkan bahwa salah satu indikasi lemah iman adalah ketika pertimbangan seseorang melakukan sesuatu hanya sekedar bertanya, “Ini termasuk dosa ataukah tidak?” dan tidak bertanya, “Ini berfaedah atukah tidak?”

Karena, pertanyaan tersebut justeru mengindikasikan bahwa penanya sangat dekat dengan dosa, atau palng tidak cenderung kepada perkara yang sia-sia dan tidak berguna.
Nabi saw. menghasung ummatnya untuk menjauhi perkara tabdzir, berlaku boros dan menghambur-hamburkan segala potensi untuk perkara yang sia-sia. Bahkan menjadikannya sebagai indikasi baiknya keislaman seseorang. Beliau saw. Bersabda ;
‘Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak berguna bagi dirinya.” (H.R. Ahmad)
Semakin banyak perkaa sa-sia yang ditinggalkan, semakin bagus pula keislaman seseorang, begitu pula sebaliknya.
Segala potensi, waktu dan peluang yang Alloh berika kepada kita akan dipertanggung-jawabkan, diberdayaka untuk apa, diarahkan ke mana, dan dikelola bagaimana. Masa usia, kita habiskan untuk apa, semua aktifitas yang kita jalani di dunia, semua terekam dalam catatan amal, tak terselip ataupun tercecer sedikit pun. Berapa banyak waktu kita gunakan untuk berbuat baik, berapa pula alokasi waktu kita dalam berbuat dosa. Termasuk, berapa lama waktu yang kita hambur-hamburkan dengan percuma.
Kelak ada orang yang malu, ketika didapati pada lembaran amalnya, ternyata banyak terisi denga catatan yang tidak ada hubungannya dengan tugas untuk apa dia dicipatakan di dunia. Ternyata ia lelolakan umurnya tidak sesuai perintah Sang Pencipta. Ia telah berlaku tabdzir, menghamburkan umurnya tanpa faedah. Berapa lama pun kesempatan hidup diberika kepadanya, tetap saja tidak berguna
Jasad kita juga akan dipertanyakan, untuk apa kiranya ia telah dipergunakan. Apa yang telah terucap dari lisan kita, semuanya akan dimintai pertanggung-jawabannya, dan semuanya telah dicatat oleh malaikat yang menyertai kita. Alloh ta’ala menyebutkan;
“Tidaklah dia mengucapkan suatu perkataanpun, melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yag senantiasa hadir.” ( Q.S. Qaaf:18)
Betapa ruginya kita, bila ternyata catatan itu penuh dengan kata-kata minim makna yang tak ada hubungannya dengan dzikrulloh, mengajak kepada yang ma’ruf, mencegah tindakan yang mungkar atau kata-kata yang megandung unsur kebajikan. Padahal, sama sama keluar dari lisan, energy yang digunakan juga sama. Namun satu kata yang baik mampu menjauhkan kita dari jilatan api neraka. Nabi sw. berpesan;
“Lindungilah diri kalian dari api neraka, meski hanya dengan (menyedekahkan) separuh biji kurma, maka barangsiapa tidak memiliki separuh butir kurma (pun untuk disedekahkan) hendaklah ( ia melakukannya) dengan satu ucapan yang baik.” (H.R. Bukhari)
Selain ucapan, apa saja menu yang dinikmati oleh mata kita, makanan apa saja yang masuk kedalam perut kita, dan suara apa saja yang dinikmati oleh telinga takkan luput dari pertannyaan. Begitupun dengan kaki, tangan dan seluruh jasad kita. Hanyakah unsur ketakwaan yang dijalani ? jika ya, beruntunglah kita dengan bagusnya catatan amal kita. Atau sebaliknya, perbuatan yang sia-sia dan tidak berguna ? semoga Alloh menghindarkan kita darinya. Kuatnya tenaga, jernihnya pandangan mata, kepekaan telinga, fasihnya bicara, dan merdunya suara tak berarti apa-apa jika kita kerahkan itu semua untuk hak-hal yang tidak berguna.
Harta dibelanjakan ke mana ?
Di samping cara mendapatkan harta, ke mana manusia membelanjakan hartanya kelak juga akan dipertannyakan oleh Alloh atas hambaNya. Yang dituntut bukan sekedar meninggalkan alokasi harta untik berbut dosa, tapi juga mengelola harta ditempat yang semestinya, untuk hal-hal yang berguna dan mengandung pahala. Wujud syukur adalah membelanjakan harta sesuai dengan kehendak Yang Maha Memberi. Selain itu temasuk tabdzir dan menghambur-hamburkan harta, meski hannya satu rupiah, jika kita keluarkan untuk sesuatu yang tidak bermanfaat, itu bisa disebut tabdzir, pemborosan. Padahal meski sebutir kurma,jika kita belanjakan ditempat yang bear, bisa menjauhkan kita dari api neraka sebagaimana sabda nabi :
“Barang siapa yang mampu diantara kalian untuk membentengi diri dari neraka meskipun dengan sebutir kurma, hendaknya dia melakukan” {HR. Muslim}
Ilmu , diunakan untuk apa ?
Ada dua kriteria pemborosan dalam hal ilmu.Pertama malas unyuk mempelajarinya.seperti yang dikatakan abu Hurairoh,”cukup lah lah seseorang di katakana menyia-nyiakan ilmu jika ia tidak mau mempelajarinya” Ia dianggap menyia-nyiakan akal,menghambur-hamburkan pikiran karena tiadak menggunakan nya untuk belajar.
Kedua,menyia-nyiakan ilmu karena tidak mau mengamalkan nya.ilmu yang banyak di hapal,pemahaman yang tersimpan ,tidaklah berguna bagi pemiliknya jika tidak diamalkan.ia seperti lanyak nya computer ynatg menyimpan banyak memori pengethuan,namun tidak beramal.akibat yang paling ringan ,ilmu itu akan lenyap begitu saja atau yang paling parah jika ilmu itu justru menjadi boomerang bagi pemiliknya.
Balasan ini sudah setimpal dengan perbuatannya,percuma diberi ilmu kalau ia tidak mengambil mangfaat darinya. Andai saja seorang mengamalkan ilmunya ,disamping pahala,Allah akan menambahpengtahuan kepadanya ,sebagai ralisasi atas janji-Nya,”la in sakartum la azidannakum”jika kalian bersukur ,benar-benar aku akan menambah nikmatku atas kalian.
Maka, sadarilah sekarang, tingalka segala kemudziran gunakan segala potensi dan peluang untuk kebaikan

0 komentar:

Posting Komentar

Must Read

1. Ciri Pendidikan Unggul

Salah satu ciri lembaga pendidikan unggul adalah adanya perhatian pada sisi hafalan, praktek mengajar sebagai penunjang hafalan dan pengembangan dari ilmu yang pernah di dapat.read more→