Senin, 25 Juli 2011

AGAR CERITA BERMAKNA

Mengetahui kebenaran dan membedakannya dari kebatilan, kemudian memilih dan mengutamakannya dari yang lain. Dan jika hati telah ridha dalam memilih sesuatu, akan sulit untuk merubahnya kepada yang lain.
Namun, untuk sampai kepada pilihan yang benar dan teguh dalam memegangnya bukanlah sesuatu yang mudah. Di samping ilmu yang benar, hati kita juga membutuhkan keberanian untuk setia kepada ilmu itu. Apalagi jika ternyata mengandung resiko duniawi yang tidak kecil. Juga pilihan itu memerlukan ke-istiqamahan yang tinggi karena lamanya waktu menetapi pilihan itu.
Bagi setiap muslim, beribadah kepada Allah adalah sebuah keniscayaan hidup. Namun karena ianya adalah kewajiban seumur hidup, dengan berbagai godaan dan ujian yang datang silih berganti, berat sungguh menjalaninya kecuali hamba-hamba yang dimudahkan Allah. Termasuk menjaga pilihan dan kecenderungan hati agar -selalu- memilih ridha Allah di atas yang lain.


Rahasia Kisah
Kisah memainkan peranan penting dalam menarik perhatian, kesadaran pikiran dan akal manusia. Ia bisa menambah spirit serta membangkitkan rasa keislaman yang bergelora dan mendalam di dalam jiwa. Hal yang seringkali membuat manusia siap mengemban berbagai kesulitan dan kepayahan dalam meraih kemuliaan dan keluhuran hidup yang utama.
Rasulullah sering membawakan kisah-kisah di hadapan para shahabat beliau, muda maupun tua. Mereka mendengarkannya dengan antusias dan penuh perhatian agar bisa mengambil pelajaran dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Sebagaimana Rasulullah pun sering mendapatkan hadiah kisah-kisah dari Allah. Firman Allah, “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu, terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf: 111) Yaitu bagaimana Allah telah menyelamatkan orang-orang beriman dan menghancurkan orang-orang kafir.
Kita pun tahu bagaimana Waraqah bin Naufal pernah merekomendasikan kisah nabi Musa kepada Khadijah saat Muhammad menerima wahyu pertama kali yang membuat beliau sempat gelisah dan merasa berat. Kisah Musa meneguhkan langkah-langkah kaki beliau sesudahnya. Demikian juga dengan kisah-kisah lain yang bertaburan di dalam al-Qur’an.

Mengambil Teladan
Bagaimanapun, manusia sangat menikmati cerita, baik yang nyata maupun yang sekadar karangan belaka. Terlebih kisah-kisah nyata, ia akan sangat menggerakkan jiwa karena menjadi cermin diri disertai bukti-bukti faktualnya. Sebagaimana Allah firmankan, bahwa di dalam kisah-kisah yang termuat dalam al-Qur’an adalah petunjuk dan rahmat bagi manusia, karena ia adalah kisah nyata dan bukan yang dibuat-buat.
Menjadi petunjuk karena berisi informasi tentang kesudahan hamba-hamba yang beriman dan orang-orang kafir. Menjadi rahmat karena ia adalah referensi penting agar menjadi panduan bagi manusia dalam bersikap. Memilih beriman kepada Allah, atau mengkafiri-Nya. Toh apapun pilihannya, masing-masing memikul resikonya sendiri-sendiri. Dari kisah-kisah inilah hamba-hamba yang beriman –mestinya- bisa mengambil teladan di dalam hidup mereka.
Satu hal yang penting dalam masalah kisah adalah, keyakinan tentang pengulangan sejarah. Hal yang akan menumbuhkan keyakinan sejarah di dalam diri. “Dan hari-hari itu, Kami pergilirkan di antara manusia,” demikian Allah berfirman. Sehingga kisah-kisah itu akan memandu manusia menjalani pengulangannya, sebab pasang surutnya kehidupan adalah di antara bukti-bukti pengulangan itu. Kemudian memilih sikap paling tepat di setiap situasi dan kondisi.
Dari sini, fakta-fakta sejarah menjadi penting untuk direnungkan, dan adalah tindakan bodoh jika mengabaikannya. Allah berfirman, “… Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan!” (QS. al-Hasyr: 2) Maksudnya, fikirkanlah dan perhatikanlah akibat yang diterima oleh orang-orang yang menentang perintah Allah dan Rasul-Nya serta mendustakan kitab-Nya.

Mental Pemenang
Keyakinan akan pengulangan sejarah ini, akan memompakan semangat dan meneguhkan langkah setiap kali kita memilih jalan kebenaran. Seberat apapun, ujian dan rintangan yang ada adalah sebuah keniscayaan akan pembuktian iman. Sehingga hamba-hamba beriman tidak pernah berharap sepinya ujian sebab itu hal yang mustahil adanya.
Mereka hanya berharap agar lulus menjalani ujian iman dengan keteguhan serupa pelaku sejarah sebelumnya. Seraya memohon agar kesudahan yang baik itu juga menjadi milik mereka. Allah berfirman, “Dan semua kisah tentang para rasul itu, Kami ceritakan kepadamu untuk meneguhkan hatimu dengannya. Dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran, pengajaran, dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Hud: 120)
Namun hanya mereka yang bermental pemenang yang sanggup menjalaninya. Adapun para pecundang, agar berguguran di tengah jalan. Baik karena lemahnya keyakinan maupun lemahnya kesabaran. Mereka lupa, bahwa orang-orang seperti mereka pernah ada di muka bumi dengan akibatnya pun telah mereka ketahui. Bukankah kisah-kisah itu telah mengajarkannya?
Selain keteguhan langkah, kisah-kisah itu juga kanmewariskan keteguhan akidah. Sebab semua kisah itu akhirnya juga mengajarkan tentang siapa sesungguhnya Sang Maha Kuasa itu. Karena kehendak Allah sajalah yang akhirnya terjadi. Memenangkan hamba-hamba-Nya yang beriman, dan menghancurkan orang-orang kafir!
Hal ini akan membuat kepasrahan hamba kepada Allah akan menjadi utuh. Dia telah menemukan tempat bersandar sejati, pelindung tak terkalahkan, benteng tak terobohkan, juga penjaga yang tidak pernah tidur. Adakah kemantapan hati setelahnya?

Hati yang Terhijab
Ketika dibacakan al-Qur’an, orang-orang kafir menuduhnya sebagai khayalan dan dongengan orang-orang dahulu kala. Kemudia Allah membantahnya dengan menyatakan bahwa al-Qur’an –termasuk kisah-kisahnya- adalah benar adanya. Hanya saja hati mereka telah tertutup karena maksiat yang mereka lakukan.
Dari sini, hal penting agar kisah-kisah itu memberi pengaruh positif bagi jiwa kita adalah penjauhan terhadap maksiat. Sebab maksiat yang kita kerjakan hanya akan menjadikan hati kita terhijab. Yang karenanya kita gagal mengambil ibrahnya. Sedangkan ketaatan kepada Allah akan memudahkan kita menjiwai kisah-kisah itu karena hati menjadi mudah merenungi dan memikirkan nasihat dan peringatan yang terkandung di dalamnya.
Maka tidaklah mengherankan jika para pelakon sinetron yang berangkat dari kisah-kisah nyata tentang su’ul khatimah, bisa saja tergelincir dan tidak memperoleh apa-apa selain sejumlah uang tunai atas akting yang mereka lakukan! Hal itu karena mereka memang hanya berakting. Sehingga di luar peran mereka sebagai orang baik-baik, mereka tidak juga berhenti melakukan banyak maksiat kepada Allah. Naudzu billahi min dzalik!

Niat yang Lurus
Akhirnya, semua akan kembali kepada diri kita sendiri. Jika kita melahap kisah-kisah itu sebagi upaya mencari petunjuk kehidupan, seperti itulah –insya Allah- yang akan kita peroleh. Sedang jika hanya berniat menikmati keindahan bahasa, romantisme, petualangan dan konflik antar pelaku, hanya seperti itulah pengaruh kisah-kisah itu yang akan kita dapatkan.
Sudahkah kita meniatkan hanya kepada Allah? Agar membaca kisah orang-orang shalih adalah termasuk upaya membersihkan hati kita. Wallahu A’lam. (trias)

0 komentar:

Posting Komentar

Must Read

1. Ciri Pendidikan Unggul

Salah satu ciri lembaga pendidikan unggul adalah adanya perhatian pada sisi hafalan, praktek mengajar sebagai penunjang hafalan dan pengembangan dari ilmu yang pernah di dapat.read more→