Jumat, 01 Juli 2011

BULETIN ATS TSABAT EDISI 11/ VOL 2/ 2011 M


KEJUJURAN TANPA EVOLUSI
Kejujuran, sebenarnya bukanlah hal yang baru dalam benak kita. Buku-buku yang banyak kita baca, serta kisah-kisah yang sering kita dengar sejak kecil telah mengajarkan tentang pentingnya kejujuran bagi kesuksesan manusia dalam hidup mereka. Seringkali, dilengkapi pula dengan kisah tragis para pendusta. Kesemuanya disajikan secara hitam putih.
Namun seiring pertambahan umur, banyak di antara kita yang mulai meragukan kejujuran itu sendiri. Mungkin karena beberapa ‘kebohongan kecil’ yang kita lakukan memberi manfaat dengan instan dan tampaknya tidak membahayakan, mungkin karena persaingan hidup yang makin sengit, mungkin karena lingkungan pergaulan kita memang tidak menghargai kejujuran, atau mungkin karena banyak orang jujur yang malah ‘hancur’.
Wallâhu a’lam. Apapun alasannya, kejujuran telah menjadi barang langka,
sedang kedustaan telah menjadi pemandangan, bahkan ‘kebudayaan’ yang biasa. Banyak di antara kita yang malah tidak percaya jika masih ada orang-orang yang jujur dalam hidup ini.
Sesungguhnya, tidak ada yang berubah dengan kejujuran. Ia tetaplah, sebagaimana sabda Rasulullah, pembawa kebaikan yang akan membawa pemiliknya ke surga. Yang justru berubah adalah diri kita yang terlena dengan nikmat dunia sesaat. Kemudian melupakan hakikat; bahwa kehidupan manusia sesungguhnya adalah kehidupan hatinya. Artinya, jika kita merasa berhasil karena berbagai kebohongan kita, itu adalah sebentuk tipuan. Bagaimanapun, kita telah membuat hati nurani kita menderita.
Belum lagi jika kebohongan kita terlacak oleh orang lain, selain harga diri yang akan hancur, hidup pun akan dipenuhi rasa malu karena kepercayaan orang lain kepada kita telah menghilang. Kita harusnya percaya, bahwa dusta itu akan membawa kita kepada kejahatan. Bukankah Rasulullah telah bersabda demikian? Tapi, bagaimana cara agar kita bisa bersikap jujur?

Nyamankan Hati
Ibnul-Qayyim pernah berkata bahwa kehidupan manusia hakikatnya adalah kehidupan hatinya. Sehingga kualitas hidupnya ditentukan oleh kualitas hati. Semakin ia bersih, semakin baik kualitas hidup seseorang. Kedamaian, ketenangan, kenyamanan, dan semua kebaikan akan bermula dan bermuara kepada bagaimana hati manusia.
Untuk itu, yang pertama harus kita lakukan adalah mempertebal keyakinan bahwa bersikap jujur adalah membangun kualitas hidup yang sejati. Bohong, dusta, atau apalah namanya, sama sekali tidak akan menolong diri kita ini. Sebab, itu berarti kita telah menanam bom waktu yang, kelak, ledakannya akan kita sesali. Ini hanya soal waktu.
Dusta tidak akan mengangkat derajat kita di hadapan manusia. Kalaupun tampaknya bisa, itu bersifat sementara dan karena mereka belum mengetahui yang sebenarnya. Bahkan, kalau Allah membeberkan kebohongan dan kedustaan kita, maka, kita akan menjadi manusia hina yang tidak berharga sedikitpun. Butuh waktu lama untuk mengembalikan kepercayaan orang pada kita. Itupun kalau bisa!
Selain itu, dusta hanya akan membuat hidup menjadi sempit dan sangat tidak nyaman. Semakin sering kita berdusta, berarti semakin banyak kita telah mengenakan topeng kepalsuan dan membuat penjara hati. Kesemuanya akan membuat kita selalu dicekam ketakutan akan terbongkarnya dusta kita. Seringkali kondisi ini akan menjadi mata rantai kedustaan, karena kita akan membuat dusta baru untuk menutupi kebohongan yang telah kita lakukan.

Ada yang Maha Mendengar
Penting bagi kita untuk menyadari, bahwa tiada satu patah kata pun yang kita ucapkan luput dari pendengaran Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Tiada satu patah kata pun yang kita ucapkan kecuali harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Kedustaan kita, sekecil apapun, mutlak diketahui Allah. Kita tidak mungkin bersembunyi dari pengawasan dan pendengaran-Nya.
Bersikap jujur adalah sebuah pencarian gelar di sisi-Nya, bukan penghargaan manusia. Sehingga, setiap kedustaan demi meraih nilai duniawi menjadi tidak penting, murah, dan hina. Ia adalah racun yang akan merusak kesucian gelar itu. Kita harus segera bartaubat atas semua niat busuk kita dengan berlaku tidak jujur selama ini, sebelum Dia akan membeberkannya nanti. Na’ûdzu billâhi min dzâlik!
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya jujur itu membawa kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu membawa ke surga. Seseorang itu akan selalu bertindak jujur sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur. Dan sesungguhnya dusta itu membawa kepada kejahatan dan sesungguhnya kejahatan itu membawa ke neraka. Seseorang akan selalu berdusta sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. al-Bukhârî dan Muslim)

Ada Sebab Ada Akibat
Berikutnya adalah mengetahui buah kejujuran dan kedustaan, dunia akhirat. Kedustaan selain menjadi salah satu ciri kemunafikan, juga bisa menjatuhkan martabat, mematikan hati, penyebab sûul-khâtimah, serta pengantar ke neraka. Sedang kejujuran akan membawa segala bentuk kebaikan dunia akhirat. Salah satunya seperti sabda Rasulullah berikut ini, “Aku adalah penjamin rumah di surga yang paling rendah terhadap orang yang meninggalkan perdebatan meskipun dia berada dalam kebenaran, (juga penjamin) rumah di surga yang (berada) di tengah-tengah terhadap orang yang meninggalkan dusta meskipun sekedar bercanda, (juga penjamin) rumah di surga yang paling tinggi terhadap orang yang baik akhlaknya.” (HR. Abu Dawud dengan sanad hasan)
Setelah itu adalah memperbanyak berdoa kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ agar Dia memudahkan kita untuk selalu menjaga kejujuran. Sebab hanya Dia yang akan membuat semua yang sulit menjadi mudah, yang berat menjadi ringan, dan yang jauh menjadi dekat.

Perbanyak Amal
Tiada satu patah kata pun yang kita ucapkan kecuali pasti memakan waktu, entah sebentar entah lama. Banyak di antaranya yang mendatangkan madharat bagi kita. Seperti ucapan yang mengandung kesyirikan dan sumpah kepada selain Allah, berfatwa tanpa ilmu, atau berbohong. Meski, ada juga yang akan menguntungkan kita jika kita bisa memanfaatkannya. Rasulullah bersabda, “Setiap ucapan Bani Adam itu membahayakan dirinya (tidak memberi manfaat), kecuali kata-kata berupa amar ma’ruf dan nahi munkar, serta berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. at-Tirmîdzî)
Karena itu, tidak ada pilihan lain selain berlatih untuk membiasakan diri berkata benar, beramar ma’ruf dengan lisan, serta berdzikir kepada Allah.
Kalau ternyata hal ini sulit kita lakukan, kita harus mencari lingkungan pergaulan yang kondusif. Lingkungan yang akan menumbuhkan kecintaan kita kepada pencarian ridha Allah dan bukan manfaat dunia sesaat. Lingkungan yang akan membuat kita menjalani hidup secara nyaman, menghargai hati dan kejujuran, serta jauh dari dusta dan kepura-puraan.
Bahkan, wajah-wajah orang-orang jujur itu bisa dibedakan dari para pendusta. Seperti ucapan Abdullah bin Salam saat Rasulullah datang ke Madinah untuk kali pertama, “Aku tahu dari wajahnya, dia bukanlah pendusta.” Wajah-wajah tunduk dan teduh yang menentramkan. Juga ucapan-ucapan yang menenangkan. Bukankah ucapan jujur adalah bahasa hati yang akan dinikmati hati pula?

0 komentar:

Posting Komentar

Must Read

1. Ciri Pendidikan Unggul

Salah satu ciri lembaga pendidikan unggul adalah adanya perhatian pada sisi hafalan, praktek mengajar sebagai penunjang hafalan dan pengembangan dari ilmu yang pernah di dapat.read more→