Minggu, 03 Juli 2011

LEMBUT HATI MENGUNDANG SIMPATI

Pesona pribadi Nabi Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam yang ramah, lembut tanpa menyiratkan kelemahan, santun tanpa mengurangi ketegasan, kiranya menjadi daya tarik manusia untuk mengikuti dakwahnya. Karena kelembutannya, masing-masing sahabat menyangka bahwa ia adalah orang yang paling dekat dengan Nabi. Amru bin Ash Radhiyallâhu ‘Anhu contohnya. Terdorong oleh rasa penasaran, sekaligus harapan dan dugaan sebagai sahabat terdekat Nabi, beliau pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling Anda cintai?
” Nabi menjawab, “’Âisyah!” Beliau belum merasa kecewa, karena masih ada harapan orang pertama yang dicintai Nabi dari golongan laki-laki. “Dari kaum lelaki?” tanyanya. Beliau menjawab, “Bapaknya ‘Âisyah!” Amru menyahut, “Kemudian siapa lagi?’ Nabi menjawab, “‘Umar!” Amru melanjutkan pertanyaannya dan Nabi menjawab dengan beberapa nama sahabat, sedangkan namanya belum disebut juga. Padahal ia merasa sebagai orang yang dekat dan sangat diperhatikan oleh Nabi. Akhirnya beliaupun berhenti bertanya karena khawatir kecewa jika ternyata beliau berada di urutan terakhir.
Itulah Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam, yang kelembutannya disebutkan oleh Allah Subhânahu wa Ta’âlâ, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Âli ‘Imrân: 159)
Segala urusan akan menjadi indah selagi sifat lembut menyertainya. Sebaliknya, tanpa kelembutan, segala urusan menjadi runyam. Nabi Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ.
“Sesungguhnya, tiadalah kelembutan itu menyertai suatu urusan kecuali menghiasinya, dan tiadalah kelembutan itu tercabut dari suatu urusan, kecuali akan menjadi runyam.” (HR. Muslim)
Sifat lembut dan santun, ramah dan tak mudah marah, tak hanya membuat manusia simpati kepadanya, tapi Allah juga akan mencintainya. Tentu, yang dimaksud sifat lembut itu adalah kelembutan yang tidak mengandung unsur kelemahan, dan santun yang tidak menghilangkan ketegasan.
Hubungan suami istri akan harmonis ketika ada kelembutan. Rasa sakinah akan hadir dalam keluarga ketika kelembutan dan sikap santun menjadi perhiasannya. Nabi bersabda,
إِذَا أَرَادَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِأَهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا أَدْخَلَ عَلَيْهِمْ الرِّفْقَ.
“Apabila Allah ‘Azza wa Jalla menghendaki kebaikan suatu keluarga, Allah akan memasukkan kelembutan atas mereka.”
Rakyat juga lebih tentram dan merasa aman memiliki pemimpin yang lembut, tidak kasar dan semena-mena.
Akan halnya dengan orang yang bersikap kasar dan tak peduli dengan perasaan orang lain, niscaya urusannya serba sulit. Jika jadi da’i, tak banyak orang yang bersimpati. Jika jadi suami, tak akan disayang istri. Jika menjadi bapak, tak bisa dibanggakan sang anak. Jika menjadi pemimpin, rakyat akan berharap ia lengser dengan segera. Wallahu a’lam. (Abu Umar A/ www.ar-risalah.or.id)



0 komentar:

Posting Komentar

Must Read

1. Ciri Pendidikan Unggul

Salah satu ciri lembaga pendidikan unggul adalah adanya perhatian pada sisi hafalan, praktek mengajar sebagai penunjang hafalan dan pengembangan dari ilmu yang pernah di dapat.read more→